CitraPramana

it's just my story

Magical May 2012 May 1, 2012

Filed under: Uncategorized — Citrapramana @ 2:53 am

Setiap bangun pagi, seterbukanya mata ini yang pertama saya cari pasti hp, pertama untuk ngeliat jam (karena di kamar saya, saya sengaja nggak pasang jam dinding, saya nggak suka mendengar detakan detiknya.), yang kedua untuk ngecek message-message yang masuk entah sms/email/ bbm/ mention/ DM, setelah itu baca-baca timeline sambil menggenapi jam (misalnya kalau saat itu masih jam 5.38, saya akan tunggu sampai 5.45 untuk bangun dari kasur. Atau kalau saat itu jam 5.47, saya akan tunggu sampai jam 6.00. Heheh kebiasaan yang aneh.)

Nah, pagi ini sambil nunggu bangun ini di timeline ada rame-rame pada bikin #MagicalMay, ternyata yang bikin (at)Dear_Connie..MagicalMay itu ternyata tantangan untuk mengerjakan sesuatu secara tertulis.

Lucu juga nih kalau ikutan.. Daripada blog ini juga kosong. Oke..

MagicalMay 2012 #1 akan di mulai di post berikutnya… Semoga bisa comit 28hari. 🙂
*iyalah harusnya sih bisa, 30hari menulis surat cinta aja bisa, sampe kemana-kemana selalu bawa laptop, ke beer house aja nyempet-nyempetin nulis, masa iya yang ini gak bisa.. Hheheeh*

Advertisements
 

Falling in Love at a Coffee Shop April 22, 2012

Filed under: Uncategorized — Citrapramana @ 9:07 am

“Imagine we are all the same. Imagine we agree about politics, religion and morality. Imagine we like the same types of music, art, food and coffee. Imagine we all look alike. Sound boring? Differences need not divide us. Embrace diversity. Dignity is everyone’s human right.”

-a quote from Bill Brummel, documentary filmmaker, published on the side of a cup of Starbucks Decaf Grande Cappuccino

 

The Blower’s Daughter April 5, 2012

Filed under: Uncategorized — Citrapramana @ 7:59 am

Yang Mulia Raksasa sedang menyiksa saya, entah dia marah atau hanya sedang mempermainkan saya, hingga saya merasa kecapekan, ingin menyerah, dan memintaNya agar saya dibuang saja sekalian ke lubang hitam itu. Ia sempat menunjukkan pada saya sebuah lubang hitam yang besar, kataNya, lubang itu tempat Ia membuang makhluk-makhluk seperti saya karena sudah tidak berguna.

Saya bertanya, “hey Kamu Raksasa, aku capek! Mau kamu apa?” Dia menatapku dalam-dalam, tanpa berbicara saya tahu maksudnya, hey kamu… Cuman Aku beri ujian segini saja kamu sudah menangis? Cengeng! Kamu mau masuk ke dalam Lubang Hitam itu bersama makhluk-makhluk yang tidak berguna lainnya?

Lalu Ia memperlihatkan kepada saya, dari sorot matanya keluarlah sinar yang Ia tembakan ke dinding hitam tempat kurungan saya, di sana Ia tunjukkan potongan-potongan seperti film orang-orang yang saya kenal, bukan hanya kenal tetapi saya sayangi. Mama, bapak, adik-adik, sahabat-sahabat, dalam potongan gambar bergerak itu terlihat mereka nampak bahagia. Saya rindu mereka.

Raksasa itu tersenyum, melihat saya menitikkan air mata rindu yang jatuh. Lalu Ia berkata, jika kamu memaksaKu membuangmu ke dalam Lubang Hitam, kamu tidak dapat melihat mereka lagi untuk selamanya.

Raksasa brengsek, umpat saya dalam hati. Giliran saya berputus asa, Ia menunjukkan tawa bahagia mereka yang teramat saya rindu. Lalu hati ini bulat bertekad, saya bisa melwati siksaan si Raksasa ini, agar cepat bisa saya gapai tawa bahagia keluarga dan teman-teman saya. Agar sayapun dapat bergabung bersama mereka merasakan kebahagiaan, bukan hanya melihatnya dari sorot mata si Raksasa yang ditembakkan ke tembok saja.

 

The Limit To Your Love

Filed under: Uncategorized — Citrapramana @ 5:27 am

“Banyak hal dengan mudah terlupakan, seperti kita sama sekali lupa kenapa kita tidak bisa mengingatnya lagi. Sesuatu bisa begitu saja hilang dari ingatan, seperti arwah, seperti mimpi. Kita cuma bisa merasakan jejaknya pada diri kita tanpa bisa mengenalinya lagi. Kita tinggal benci, kita tinggal marah, tinggal takut, tinggal cinta. Kita tak tahu kenapa.”

-Ayu Utami, Saman

 

a Rush of Blood to the Head April 4, 2012

Filed under: Uncategorized — Citrapramana @ 3:25 pm

Raksasa itu mengurung saya, Ia menghukum saya atas apa yang telah saya lakukan, ujarnya. Saya tidak mengerti, apa salah saya, belakangan ini memang saya melakukan beberapa perbuatan tidak baik, tapi yang mana? Perbuatan saya yang mana yang sampai membuat si Raksasa ini marah kepada saya dan menghukum saya seperti ini?

Selama dalam masa hukuman, saya tak berhenti mentaati perintahNya, saya berbuat kebaikan agar hatiNya luluh dan memaafkan saya, agar saya dibebaskan. Tetapi pandangannya seolah berkata, berbuat baiklah bukan karenaKu, tapi untuk kebaikan orang-orang di sekitarMu, niscaya hidupmu akan lancar dan dijauhi dari hukumanKu. Tapi bukan berarti kamu luput dari perhatianKu. Teruslah berbuat baik agar kamu tidak mendapatkan hukumanKu lagi. Untuk sementara ini, nikmati dulu pelajaran yang Aku beri sehingga kamu bisa mengerti dan memahami dan terlatih untuk menghadapi ujian-ujianKu yang lain, yang bukan berasal dariKu saja, tetapi dari orang sekitarmu. Karena tidak semua makhluk sepertimu berbuat kebaikan…

Saya menangis mendengar kata-kataNya, saya bersimpuh di hadapanNya dan memohon pengampunan lalu menguatkan diri untuk sesuatu yang lebih baik di luar sana, suatu kebaikan yang bukan hanya untuk saya tapi untuk orang sekitar saya.

 

Never Gonna Leave This Bed

Filed under: Uncategorized — Citrapramana @ 8:33 am

Never ruin your friendship with something that called LOVE. Just don’t!

Saya rindu sahabat saya, saya rindu menghabiskan waktu bersama tanpa peduli hari akan habis dan berganti malam hingga kantuk mengalahkan kesenangan kami menonton film, bermain kartu, mengobrol sambil minum kopi atau hanya berbaring di atas kasurnya menerawang bersama tanpa berkata sepatahpun.

Sekarang kami menjadi dua orang asing apabila bertemu. Entah apa yang terjadi di sana. Antara aku yang malu karena sudah merusak semuanya atau dia yang sedang menjaga jarak denganku agar aku bisa melupakan rasa ini. Entahlah.

Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong. Aku hanya ingin memberi, membagi kasih.

 

Chapel of Love April 3, 2012

Filed under: Uncategorized — Citrapramana @ 6:53 pm

Saman (2001: 120-121)

Pertama. Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Kedua. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas, dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Itu dinamakan perkawinan. Kelak, ketika dewasa, aku menganggapnya persundalan yang hipokrit.”